Sinopsis
Dunia Avatar: The Last Airbender terbagi menjadi empat negara: Air, Api, Tanah, dan Angin. Di setiap negara, terdapat individu istimewa yang mampu memanipulasi elemen asli mereka. Namun, hanya satu orang yang mampu mengendalikan keempat elemen - Avatar, roh dunia dalam wujud manusia.
Ketika Avatar terdahulu meninggal, ia bereinkarnasi di negara berikutnya. Avatar biasanya memulai dengan menguasai elemen aslinya, kemudian belajar mengendalikan elemen lain. Selama berabad-abad, Avatar menjaga keharmonisan dunia.
Namun, Negara Api melancarkan perang kejam untuk menguasai dunia. Banyak yang percaya Avatar tidak terlahir kembali, memutus siklusnya.
Review
Cerita berpusat pada Aang, Avatar yang terbangun dan menemukan rakyatnya musnah dan dunia dilanda perang. Trauma itu membentuk masa depannya. Aang, satu-satunya harapan dunia, harus mengendalikan keempat elemen dan menjadi pembawa perdamaian.
Adaptasi animasi ke live action selalu penuh tantangan. Avatar: The Last Airbender, setelah sukses One Piece, mencoba menembus batas tersebut.
Namun, perubahan media sering kali menghilangkan keunikan cerita aslinya. Hal ini terjadi dalam 8 episode Avatar: The Last Airbender.
Pesona animasi yang menonjol hilang, digantikan fantasi yang lebih serius dan penuh kekerasan. Adaptasi ini pun terasa kurang ramah anak.
Imajinasi digantikan warna yang lebih gelap, lebih dewasa, dan penuh dengan kekerasan.
Namun, pemilihan casting yang cerdik menyelamatkan serial ini. Aang (Gordon Cormier), Katara (Kiawentiio), dan Sokka (Ian Ousley) merupakan aktor muda yang solid.
Cormier, bahkan terlihat seperti Aang versi 2D. Aktingnya mengesankan bagi seorang aktor berusia 12 tahun yang menjadi pemeran utama.
Di tengah kekecewaan imajinasi yang terasa lebih gelap, Cormier membangkitkan kegembiraan dan keceriaan, dengan tanggung jawab besar di pundaknya untuk menyelamatkan dunia.
Sokka adalah karakter paling lucu, yang kerap mencairkan suasana. Katara, juga cakap jadi detak jantung tim tersebut. Ketiganya membentuk ikatan persahabatan yang solid, meskipun beberapa adegan terasa kurang natural.
Koreografi yang ditampilkan menambah keunikan serial ini. Aang dengan mudah melompat dan melayang sesuai keinginannya. Ia juga punya gaya bertarung yang menyenangkan, menggunakan lingkungan untuk keuntungannya.
Kesulitan utama adaptasi fantasi adalah banyak hal terasa kurang alami jika tidak dieksekusi dengan baik.
Secara keseluruhan, Avatar: The Last Airbender ini menunjukkan peningkatan dari adaptasi live action yang disutradarai oleh M. Night Shyamalan pada tahun 2010.
Beberapa adegan aksi divisualisasikan dengan tajam. Alam yang ditampilkan di animasi juga dikemas dengan baik di live action ini.
Kesimpulan
Avatar: The Last Airbender versi live action ini bukan tontonan anak-anak. Serial ini lebih cocok untuk remaja dan orang dewasa karena mengandung tema yang lebih kompleks dan adegan yang lebih keras.
Meskipun terdapat beberapa kekurangan, seperti hilangnya pesona animasi dan beberapa adegan yang kurang natural, adaptasi ini menunjukkan peningkatan dibandingkan versi sebelumnya.
|
Genre |
Action, Adventure,Fantasy |
|
Runtime |
1 Hour/8 episode |
|
Release Date |
22 Februari 2024 |
|
Production Co. |
Netflix |
|
Creator |
Albert Kim |
|
Base On |
Avatar: The last Airbender karya Michael
Dante DiMartino dan Bryan Konietzko |
|
Cast |
Gordon Cormier - Aang Kiawentiio - Katara Ian Ousley - Sokka Dallas Liu - Prince Zuko Paul Sun-Hyung Lee - Uncle Iroh Daniel Dae Kim - Fire Lord Ozai Ken Leung - Commander Zhao Ruy Iskandar - Lieutenant Jee Elizabeth Yu - Azula Matthew Yang King - Appa |


0 Komentar